HTML

- Ian - Adut - Sugar - Gondex - Andre - Anggita - Ella - Auk - Cahyo - Cipik - DanCun - Denitto - Devita - Cahjo - Ibnu - Indah - Joko - Eva - Rism - Levita - Lilin - Nuppy - Novita - NurAs - Tiwii - Puput - Ndong - Sapi - Try - Via - Citra - Yuyun -

Sabtu, 31 Maret 2012

'THE RAID' Film Hollywood Karya Indonesia


THE RAID! Film yang sebelumnya berjudul 'Serbuan Maut' ini telah meraih sejumlah penghargaan di berbagai festival film internasional antara lain, dalam Toronto International Film Festival (TIIF), menyabet penghargaan tertinggi ‘The Cadillac People’s Choice Award’. Film laga ini juga meraih penghargaan sebagai film terbaik dan sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival dan menjadi film favorit juri di Festival Film Sundance. Film ini adalah kerja sama kedua antara Evans dan Uwais setelah film aksi pertama mereka, Merantau, yang diluncurkan pada tahun 2009. Dengan proyek ini, mereka hendak menonjolkan seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat, dalam tata laga mereka. Penata laga untuk The Raid adalah Iko Uwais dan Yayan Ruhian, sama seperti pada Merantau, dengan sejumlah ide dari Gareth Evans sendiri. Untuk Scoring Musik film ini di garap oleh Mike Shinoda personel dari LINKIN PARK. Film ini hak distribusinya sudah dibeli oleh Sony Pictures Worldwide Acquisition, sehingga film ini bisa diputar di seluruh Amerika, Kanada, Inggris, Australia, Prancis, Jerman, Jepang, Cina, dan masih banyak negara lain-nya.
The Raid sendiri bercerita mengenai sebuah tim elit polisi yang mencoba menyerbu sarang mafia. Apartemen bobrok yang akan diserbu ini merupakan tempat persembunyian penjahat kelas kakap yang selama ini diincar polisi. Selama ini sudah beberapa kali polisi mencoba menyerbu sarang penyamun tersebut, tapi mereka tidak pernah berhasil. Kali ini pun, tim elit polisi yang mencoba menyerbu tempat ini harus berhadapan dengan” neraka” ketika rencana penyerbuan mereka berubah menjadi acara pembantaian oleh pihak mafia. 

Letak keistimewaan The Raid ada pada bagian aksinya. Koreografi pertarungan The Raid sangatlah memukau. Selain brutal, sadis, dan ganas, pertarungan di The Raid juga berkesan nyata. Kursi, meja, dan berbagai peralatan lain yang digunakan untuk bertarung tidak lantas hancur berantakan begitu dipukulkan ke badan lawan. Dan yang pasti, efek darah yang digunakan sekarang jauh lebih realistis, beda dengan garapan sutradara Gareth Evans sebelum ini (Merantau), yang menggunakan darah berwarna pink. Dari begitu banyak adegan tarung di film laga, tapi hanya sedikit film yang bisa menyamai serunya pertarungan di The Raid. Sekedar untuk peringatan saja, pertarungan di The Raid selalu penuh dengan darah dan adegan kekerasan yang sadis, jadi bersiaplah untuk merasa miris jika mau menonton.

Ini merupakan suatu kebangaan bagi insan perfilman Indonesia, semoga saja dengan film ini perfilman Indonesia bisa bangkit dan menginspirasi para sutradara dan insan perfilman di Indonesia untuk membuat film yang bermutu tinggi dan Go International! haha, gitu dong bikin film bermutu yang go internasional! Jangan buat Film Hantu yang semacam Low-Budget lagi deh ya!:D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar